“Kok, bisa ya dirimu? Padahal dari dulu aku pengen banget. Tapi nggak bisa-bisa.”
Celetukan ini saya comot dari pembicaraaan di buku muka alias Facebook dengan seseorang yang masih ada talian darah dengan saya. Nun jauh disana dari berita-berita yang saya dengar, nih orang lumayan sukses juga. Banyak torehan prestasi (euluh… prestasi) yang jauh melampaui saya. Nih, dah lulus kuliah, dah kerja dikantor yg lumayan, dan ini sudah merrit (damn!). Dua prestasi (lagi) yang disebutkan terakhir belum saya dapatkan he..he.. kalah tho aku !
Atau ini. Obrolan dari pendengar yang pernah atau sekedar mampir di radio tempat saya bekerja.
“Gimana seh caranya, biar bisa kayak kamu, mas? Pengen aku.”
Gampang-gampang susah kalau ngasih jawaban dari pertanyaan seperti ini. Terlalu panjang dan bisa sangat melelahkan (lebay : mode on). Dan semua pertanyaan senada yang pernah dan sempat terlintas di telinga saya.
Nah, lho. Bukannya dulu saya juga bertanya manja seperti itu, ya?. Tapi bedanya saya hanya bertanya dalam hati dan tidak bertanya langsung pada penyiar yang saya temui. Lha wong dulu saya katrok dan nggak pedean. Penyiar gitu lho…!
Saya sendiri juga nggak tahu kok bisanya saya nyasar ke dunia kayak beginian. Padahal awalnya saya masuk jurusan komunikasi biar nggak ketemu matematika he..he..he.. Mungkin sudah jalannya kali, ya. Gini-gini saya pernah juga pede daftar di FK Unair dan Unhas. Tapi ya itu… kesempatan berkata lain (sorry diplomatis dikit, alias ditolak mentah-mentah
)
Tapi saya bersyukur. Dari pertanyaan semacam itu, saya jadi di ingatkan masa muda saya *ce’ile*
Dulu saya juga mikir. Enak kali ya kalau kita jadi penyiar radio. Kerjaannya ngomong, ketawa-ketiwi, muterin musik, jadi terkenal bla..bla..bla.. dan segala kenikmatan lainnya. Tapi karena masih lugu-lugunya (rada’), saya nggak mikirin nggak enaknya. Bawaannya enaak mulu, kalau jadi penyiar.
Iya, itu dulu. Waktu saya masih suka berkhayal dan bermimpi. Tapi disini. Saat ini, saya sudah melakoni apa yang saya impikan. Dan sekarang gantian saya yang harus menjawab pertanyaan yang bahkan dulu pernah saya lontarkan.
Jawaban saya sederhana, simple (apa bedanyaaa …!) dan sedikit diplomatis. Begini :
“Yaa.. semua itu tidak lepas dari do’a dan usaha aja, kok. Saya merasa diri saya bisa, dan harus bisa. Kapan bisanya, kalau nggak pernah mulai? Dan kapan coba kita bisa tahu batas kemampuan kita, kalau tidak mencoba?” Sok banget ya…
Tapi ya itu. Dan biasanya yang sudah terdoktrin dengan jawaban seperti itu cuma ngangguk dan nge-ehm.. trus keluar kata ‘”ya..ya” atau “oh…gitu…” dan yang paling menyakitkan kalau respon baliknya cuma senyum
. Mungkin mikirnya saya ini cuma nyembunyiin resep rahasia kok bisa jadi penyiar kali ya, pelit dan nggak penting.
Lha, itu dia masalahnya. Saya sendiri kalau di tanya juga bingung. Tapi memang itulah kenyataannya. Bukan karena kikir resep atau takut disaingi
tapi ini memang kenyataan. Semua memang dari usaha dan bukan sekedar teori dalam bentuk omongan atau nasehat aja.
Mungkin dari sekian pertanyaan yang sama, saya cuma bisa ngasih saran gimana caranya jadi Penyiar Radio. Tapi ini pun bukan mutlak dan harus jadi panutan absolute. Setiap orang punya kemampuan lebih dan tidak sama rata. So, ini cuma beberapa tips aja :
Jadi penyiar itu umumnya :
1. Berani. Ya, bisa berani tampil beda, berani ngomong dan berani salah. Jadinya kita nggak malas belajar.
2. Bisa ngomong. Pekerjaan penyiar adalah berbicara. Kemampuan berkomunikasi itu penting. Tidak punya cacat suara seperti sengau, cadel, serak yang keterlaluan, cempreng dan paling penting nggak bisu.
3. Punya kepribadian yang menarik. Ini dibutuhkan ketika On Air, atau disebut juga Air Personality. Nggak usah niru-niru penyiar lain yang sudah beken, ntar kita juga beken dengan kepribadian kita sendiri. No Plagiat yach…
4. Berlatih dan selalu belajar. Tambah wawasan dengan membaca apa saja, nggak detail juga nggak apa-apa. Baca buku mulai dari yang di suka sampai nggak disuka. Itu penting. Dengan membaca, perbendaharaan kata bisa bertambah dan membantu kita lancar berbicara dan merangkai kata. Membaca bukan hanya perkara buku. Bisa tontonan, film, dan segala sesuatu pengetahuan umum sekalipun.
5. Dan mungkin yang terakhir, harus bisa menjaga suasana hati (mood). Seorang penyiar kawakan sekalipun, kalau sudah tertimpa masalah, sedikit banyak pasti mengacaukan suasana hatinya. Kemampuan ini juga nggak kalah penting. Nggak mau dong kalau kita nangis jijay pas programnya fun gara-gara jerawatan numpuk di pipi. Mengelola suasana hati juga butuh latihan. Tapi kalau sudah terjun, kita harus profesional. Begitu menghadap mic dan siap naik turunin mixer, kita harus melepas semua beban dan jangan pernah terpancing mood-nya.
Bagi yang baru atau sudah pernah menjajal jadi penyiar tetap akan mendapat training dan pelatihan dari radio station yang dituju. Ini mengingat setiap radio punya positioning sendiri-sendiri dan menjadi khas radio stationnya. Sisanya, kita memang harus banyak berlatih dan sabar.
Kalau di tanya nggak enaknya jadi penyiar. Eghm…. saya cuma bilang, nggak ada nggak enaknya. Mungkin saya sudah terdoktrin kalau kita senang menjalaninya, serasa fun aja ngelakoni nya.
Mungkin itu sedikit pengetahuan umum yang harus disiapkan bagi New Comers. Tapi yang perlu di ingat, sekali lagi, ya.. sekali lagi. Belajar dan belajar. Ikuti aja petunjuk dari setiap latihan atau training nya. Key….
Mau siaran dulu. Playlist dah siap, lagunya ajib banget. Listeners…. here I am !!