Post Graduate Syndrome Rabu, Okt 21 2009 

Saya masih ingat. Masih jelas malah. Salah satu kawan di kampung saya (kebetulan kakak kelas pas SMA dulu) bilang gini “Enaknya anak kuliahan itu ada tiga masa. Pertama waktu di Ospek, kedua pas KKN dan terakhir di Wisuda …. “

Kalau melihat secara umum, memang benar adanya. Meskipun bagi saya setiap detik menjalani aktivitas perkuliahan adalah hal yang menyenangkan, klise ya… tapi memang benar itu adanya.

Saya bersyukur karena tidak semua orang memiliki kesempatan terbaik seperti yang saya jalani sekarang. Entah karena alasan ekonomi tidak mendukung atau memang malas sekolah (lebih tinggi) lagi. Meskipun banyak yang menganggap sukses tidak harus mencicipi bangku perkuliahan *sapa juga yang mau nyicipi gila apa*. Dan banyak juga orang-orang menjadi sukses meskipun dia tidak kuliah.

Sebentar… iya juga sih. Apalagi melihat keadaan saat ini banyak lulusan Perguruan Tinggi hanya menjadi kelas pekerja yang masuk divisi karyawan alias nunut orang lain, ndompleng urip atau apalah namanya. Bahkan masih banyak juga yang megap-megap nyari kerjaan selepas lulus kuliah.

Saya bersyukur (sekali lagi) merasakan dunia kerja bahkan saat saya masih kuliah di semester-semester awal. Ribet dan hampir mematikan semangat saya. Terima kasih untuk majalah-majalah nggak penting dan kawan-kawan terbaik saya atas dukungannya. Dari dua sumber itulah semangat dan keceriaan bisa saya dapatkan.

Oh iya… sampai mana tadi.

Ini, syukur juga sudah melewati tiga “ritual” perkuliahan tersebut. Dan sebentar lagi memasuki fase ketiga sebagai pamungkasnya. Haru, bangga, sedih semua emosi teraduk dan bercampur sangat liat.

Ehm…. tunggu dulu, Kakak kelas saya itu (yang nasehatin saya diatas) FYI dia belum juga menyelesaikan fase ketiganya, dan nggak pernah menyelesaikannya. Oh.. iya, dia juga terbilang sukses diterima sebagai Pegawai Pelat Merah di bidang Hukum. Sekali lagi bukti bahwa sukses tidak harus mengandalkan ijasah, tapi tetap jadi karyawan. Setidaknya dia aman ada yang ngingoni hari tuanya dengan pensiunan.

Saya menyesal? Tolol kalau saya berfikir seperti itu. Setiap detik yang di  lalui dan fase-fase lain dalam hidup tetap menjadi bagian manis yang akan menghiasi biografi saya kelak.

- Penyiar oh Penyiar - Jumat, Jul 10 2009 

Kok, bisa ya dirimu? Padahal dari dulu aku pengen banget. Tapi nggak bisa-bisa.

Celetukan ini saya comot dari pembicaraaan di buku muka alias Facebook dengan seseorang yang masih ada talian darah dengan saya. Nun jauh disana dari berita-berita yang saya dengar, nih orang lumayan sukses juga. Banyak torehan prestasi (euluh… prestasi) yang jauh melampaui saya. Nih, dah lulus kuliah, dah kerja dikantor yg lumayan, dan ini sudah merrit (damn!). Dua prestasi (lagi) yang disebutkan terakhir belum saya dapatkan he..he.. kalah tho aku !

Atau ini. Obrolan dari pendengar yang pernah atau sekedar mampir di radio tempat saya bekerja.

Gimana seh caranya, biar bisa kayak kamu, mas? Pengen aku.”

Gampang-gampang susah kalau ngasih jawaban dari pertanyaan seperti ini. Terlalu panjang dan bisa sangat melelahkan (lebay : mode on). Dan semua pertanyaan senada yang pernah dan sempat terlintas di telinga saya.

Nah, lho. Bukannya dulu saya juga bertanya manja seperti itu, ya?. Tapi bedanya saya hanya bertanya dalam hati dan tidak bertanya langsung pada penyiar yang saya temui. Lha wong dulu saya katrok dan nggak pedean. Penyiar gitu lho…!

Saya sendiri juga nggak tahu kok bisanya saya nyasar ke dunia kayak beginian. Padahal awalnya saya masuk jurusan komunikasi biar nggak ketemu matematika he..he..he.. Mungkin sudah jalannya kali, ya. Gini-gini saya pernah juga pede daftar di FK Unair dan Unhas. Tapi ya itu… kesempatan berkata lain (sorry diplomatis dikit, alias ditolak mentah-mentah :P )

Tapi saya bersyukur. Dari pertanyaan semacam itu, saya jadi di ingatkan masa muda saya *ce’ile*

Dulu saya juga mikir. Enak kali ya kalau kita jadi penyiar radio. Kerjaannya ngomong, ketawa-ketiwi, muterin musik, jadi terkenal bla..bla..bla.. dan segala kenikmatan lainnya. Tapi karena masih lugu-lugunya (rada’), saya nggak mikirin nggak enaknya. Bawaannya enaak mulu, kalau jadi penyiar.

Iya, itu dulu. Waktu saya masih suka berkhayal dan bermimpi. Tapi disini. Saat ini, saya sudah melakoni apa yang saya impikan. Dan sekarang gantian saya yang harus menjawab pertanyaan yang bahkan dulu pernah saya lontarkan.

Jawaban saya sederhana, simple (apa bedanyaaa …!) dan sedikit diplomatis. Begini :

“Yaa.. semua itu tidak lepas dari do’a dan usaha aja, kok. Saya merasa diri saya bisa, dan harus bisa. Kapan bisanya, kalau nggak pernah mulai? Dan kapan coba kita bisa tahu batas kemampuan kita, kalau tidak mencoba?” Sok banget ya…

Tapi ya itu. Dan biasanya yang sudah terdoktrin dengan jawaban seperti itu cuma ngangguk dan nge-ehm.. trus keluar kata ‘”ya..ya” atau “oh…gitu…” dan yang paling menyakitkan kalau respon baliknya cuma senyum :) . Mungkin mikirnya saya ini cuma nyembunyiin resep rahasia kok bisa jadi penyiar kali ya, pelit dan nggak penting.

Lha, itu dia masalahnya. Saya sendiri kalau di tanya juga bingung. Tapi memang itulah kenyataannya. Bukan karena kikir resep atau takut disaingi :P tapi ini memang kenyataan. Semua memang dari usaha dan bukan sekedar teori dalam bentuk omongan atau nasehat aja.

Mungkin dari sekian pertanyaan yang sama, saya cuma bisa ngasih saran gimana caranya jadi Penyiar Radio. Tapi ini pun bukan mutlak dan harus jadi panutan absolute. Setiap orang punya kemampuan lebih dan tidak sama rata. So, ini cuma beberapa tips aja :

Jadi penyiar itu umumnya :

1. Berani. Ya, bisa berani tampil beda, berani ngomong dan berani salah. Jadinya kita nggak malas belajar.

2. Bisa ngomong. Pekerjaan penyiar adalah berbicara. Kemampuan berkomunikasi itu penting. Tidak punya cacat suara seperti sengau, cadel, serak yang keterlaluan, cempreng dan paling penting nggak bisu.

3.  Punya kepribadian yang menarik. Ini dibutuhkan ketika On Air, atau disebut juga Air Personality. Nggak usah niru-niru penyiar lain yang sudah beken, ntar kita juga beken dengan kepribadian kita sendiri. No Plagiat yach…

4. Berlatih dan selalu belajar. Tambah wawasan dengan membaca apa saja, nggak detail juga nggak apa-apa. Baca buku mulai dari yang di suka sampai nggak disuka. Itu penting. Dengan membaca, perbendaharaan kata bisa bertambah dan membantu kita lancar berbicara dan merangkai kata. Membaca bukan hanya perkara buku. Bisa tontonan, film, dan segala sesuatu pengetahuan umum sekalipun.

5. Dan mungkin yang terakhir, harus bisa menjaga suasana hati (mood). Seorang penyiar kawakan sekalipun, kalau sudah tertimpa masalah, sedikit banyak pasti mengacaukan suasana hatinya. Kemampuan ini juga nggak kalah penting. Nggak mau dong kalau kita nangis jijay pas programnya fun gara-gara jerawatan numpuk di pipi. Mengelola suasana hati juga butuh latihan. Tapi kalau sudah terjun, kita harus profesional. Begitu menghadap mic dan siap naik turunin mixer, kita harus melepas semua beban dan jangan pernah terpancing mood-nya.

Bagi yang baru atau sudah pernah menjajal jadi penyiar tetap akan mendapat training dan pelatihan dari radio station yang dituju. Ini mengingat setiap radio punya positioning sendiri-sendiri dan menjadi khas radio stationnya. Sisanya, kita memang harus banyak berlatih dan sabar.

Kalau di tanya nggak enaknya jadi penyiar. Eghm…. saya cuma bilang, nggak ada nggak enaknya. Mungkin saya sudah terdoktrin kalau kita senang menjalaninya, serasa fun aja ngelakoni nya.

Mungkin itu sedikit pengetahuan umum yang harus disiapkan bagi New Comers. Tapi yang perlu di ingat, sekali lagi, ya.. sekali lagi. Belajar dan belajar. Ikuti aja petunjuk dari setiap latihan atau training nya. Key….

Mau siaran dulu. Playlist dah siap, lagunya ajib banget. Listeners…. here I am !!

Mempertahankan Kelemahan Rabu, Jul 8 2009 

Saya tahu, sangat tahu malah. Setiap orang itu punya “kebesaran” dan “kekecilan” apapun, dimanapun dan siapapun itu. Bukankah itu fitrahnya. Bukankah itu sudah satu paket perjanjian antara Tuhan dan kita. Mungkin bekal kita hanya satu buah kesabaran sebelum menyapa dunia. Bukankah kita memang hanya punya satu senjata itu. Sabar.

Sulit. Memang iya.

Tapi bukankah buah dari kesabaran terasa manis setelah kita mengupas kulitnya yang terasa pahit. Bukankah selalu ada yang harus dikorbankan untuk sesuatu yang dipertahankan. Tapi apakah mempertahankan kelemahan itu buruk? Atau sebuah kebodohan.

Maksud saya, bukan menutupi kelemahan dengan kelebihan yang kita miliki. Saya yakin Anda sudah sangat hafal nasehat psikologis semacam itu. Tapi yang saya maksudkan, bagaimana bila kita merasa nyaman dengan kelemahan yang kita miliki? Membuang semua kelebihan yang sudah kita bangun, memecah idealisme yang membatu dalam kepala dan naluri kita.

Bagaimana bila kita enggan berpaling dari kelemahan kita. Kita merasa zona nyaman kita adalah kelemahan kita sendiri. Kesalahan adalah air yang kita minum, kekalahan adalah jiwa kita, kepasrahan adalah makanan kita dan mengalah adalah hidup kita.

Sebagian orang mungkin hidup dengan remah-remah kekalahan dan akhirnya menyerah. Atau malah merasa hebat karena memiliki kelemahan. Tapi ini beda. Lain. Dan tidak biasa.

Kelemahan yang aku miliki justru kekuatan bagiku. Entah apa namanya yang berbau psikologis. Saya nggak faham. Mungkin saya tidak sendiri. Di luar sana ada juga orang yang merasa begitu tegar, membuat sesuatu yang hebat dan justru menunjukkan kehebatan dirinya karena senang mempertontonkan kelemahan dalam dirinya. Apa ini yang disebut lecutan mental. Saya juga belum yakin. Masalahnya, ini terulang dan terus menerus. Senang menggunakan kelemahan dalam dirinya untuk menunjukkan kehebatannya.

Ini penyakit. Saya harap bukan. Tapi ini begitu nikmat dan addict sekali. Susah melepaskannya. Butuh kesabaran untuk menggetok kepala saya bahwa apa yang saya lakukan adalah kesalahan besar dan bukan untuk konsumsi mental terus-terusan.

Menahan kelemahan itu bukannya juga bagus. Untuk rasa syukur misalnya (Maaf saya mencari pembenaran, karena ini yang saya suka dan ini adalah kelemahan saya :P ). Tapi jujur deh, benar kan.

Dan memang, masih ada kulit-kulit kelemahan yang harus saya kupas dan butuh kesabaran untuk mengambil buah kekuatan yang manis. Tapi bagaimana bila saya tidak mengupasnya satu persatu, tapi memotongnya menjadi dua belahan. Apa itu salah. Saya tidak sabaran ya…..

Sindiran Identitas Selasa, Jun 23 2009 

Kamu tuh jadi cowok yang  “greng” sedikit gitu lho.  Jangan lembek melambai kayak gini.  Ini lagi, cewek  kok ya seperti arek lanang. Lembut sedikit, kek.

Risih memang kalau di sindir seperti itu. Tidak jarang orang yang merasa tersindir lebih melampiaskan dalam bahasa nonverbal dengan menekuk leher dan memonyongkan bibir lalu ngedumel dengan bahasa bisikan yang nggak keruan.

Dalam bentuk apapun, sindiran juga disamakan dengan kejahatan. Selama ini kita ter-mindset dalam pikiran kita bahwa yang namanya kejahatan adalah segala sesuatu yang berbentuk kekerasan yang menimbulkan luka. Tapi kita lupa bahwa yang namanya kekerasan mental/psikis itu ada juga.

Hinaan, cacian, makian, sindiran, panggilan ngaco’ bahkan ngomongin orang dibelakang sampai orang yang diomongin kegigit lidahnya (bahasa Perancisnya eghm… Ngerasani gitu deh). Bukannya itu juga kekerasan psikis yang menyebabkan luka fisik. Ouch !!

Well, persamaan antara korban sindiran dan pelakunya hanya dibatasi garis tipis perilaku amoral yang berantai dan nggak akan ada habisnya. Si korban akan kembali menceritakan perlakuan buruk dari pelaku kepada orang lain dan begitu seterusnya. Efek Multi Level Marketing *alah*

Memang yang namanya sindiran itu nggak terbatas, berupa-rupa, seabrek tema sindiran bisa di share baik sendiri maupun berkelompok membentuk kumpulan gossip group.

Tema sindiran sampai yang berbau identitas kelamin juga nggak luput. Kadang malah jadi bahan obrolan yang laku. Biasanya hal ini sudah biasa dan menjadi tema yang umum. Tapi kalau sindiran itu langsung tertuju pada diri kita, ouch…

Sapa coba yang nggak jengah dengan sindiran semacam itu. Seolah kita adalah bahan olokan yang layak untuk ditertawakan. Dan si-penyindir bertingkah seperti orang normal yang suci dan terhormat serta layak untuk memberikan luka batin yang pasti membuat hati korban jadi cenut-cenut.

Pria memang Pria dan Wanita memang Wanita dengan segala keunikan yang dimilikinya. Banyak kesimpulan penelitian yang menulis bahwa dalam diri setiap manusia tidak seratus persen mencerminkan pribadi diri yang sebenarnya. Bisa separoh, sepertiga, seperlima dan seper-seper lainnya. Intinya kita bukanlah diri kita yang absolute.

Pria juga memiliki hormon kewanitaan meskipun kadarnya tidak terlalu dominan. Begitupun Wanita, juga punya yang namanya hormon testosteron dan lagi-lagi kadarnya juga tidak dominan. Tapi yang namanya manusia toh kita hanya pasrah dan menerima. Kita ini kan hanya boneka mainan Maha Pencipta yang memang layak sombong karena ke-Maha-annya diatas segala-galanya. Truss, kalau kita pria berperilaku feminim atau wanita bertingkah maskulin harus dipaksakan mengikuti standar “kenormalan” pada umumnya? Lagipula sampai sekarang belum ada tuh standar pasti bagaimana menjadi Lelaki sejati dan menjadi Wanita sejati. Semuanya jadi serba relatif dan bertumpu pada alas kemampuan, jika pria bisa lalu kenapa wanita nggak bisa begitupun sebaliknya.

Bukannya berdebat panjang masalah penyimpangan perilaku gender dan segala aspek pro – kontranya. Apalagi dikait-kaitkan dengan pandangan agama. Dough…. capek dan menguras energi.

Kalau Tuhan berkendak dan bersabda atas takdir manusia, lantas untuk apa manusia berpongah ria harus menentukan boleh nggak boleh, baik nggak baik atas dasar standarnya sendiri. Mungkin diam memang emas. Karena diam akan memberi kita waktu lebih luang untuk merenung bertanya apa, kenapa, bagaimana dan mengapa sebuah peristiwa terjadi. Termasuk penyimpangan tingkah laku dan orientasi seksual. Takdir memang tidak dapat dirubah, tapi nasib bisa. Sekeras apapun kita berusaha, hasilnya memang sudah digariskan. Tapi nasib bisa berkata lain. Orang-orang yang kita pandang “tidak biasa” sekalipun bisa menunjukkan prestasi hidup yang mengejutkan, dan sebaliknya, orang-orang yang kita pandang “biasa” malah menunjukkan prestasi yang biasa-biasa saja. Semua kembali pada hukum relativitas.

Bukankah bagaimana kita menjalani hidup itu yang penting. Kita lah yang menjadi raja atas diri kita, mau dibawa ke arah yang baik atau arah yang buruk. Terserah panjenengan.

Memang kita sebagai manusia harus saling mengingatkan dalam kebaikan. Dalam banyak hal, apapun alasannya, menyindir bukanlah cara terbaik untuk mengingatkan. Saya kira Anda semua setuju akan hal itu.

How to treat your life ! Minggu, Jun 21 2009 

Thank You My LordIni obrolan yang rada nggak penting. Obrolan yang mungkin saja membuat kita ngakak terguling-guling. Atau bahkan obrolan yang nggak penting sama sekali. Tapi justru aneh, yah. Hanya dari obrolan nggak penting bisa membuat diriku yang hina dina tak berdaya ini *alah* bisa berpikir tentang hidup yang digariskan Tuhan. Sebuah momentum perenungan diri yang sempat mengejutkan pikiran bebalku, menghalau pikiran negatif tentang hidup yang selama ini aku anut dan semenjak saat itu langsung memukul tengkuk congkak ku sampai tertunduk lesu.

Gini ceritanya. Hfuf.. bentar matiin dulu lampunya. Ambil popcorn nya, buang radionya eh… nggak, jangan dulu.

Partner in crime siaran saya berulang kali mengeluhkan kenapa tubuhnya diciptakan dengan metabolisme lambat. Makan dikit dah melar, kagak makan kelaparan. Yah, dia punya sindrome pengen kurus. Sejalan dengan itu, bahkan dia berani berkoar kalau Tuhan itu nggak adil lantaran menciptakan rekan kerja saya yang punya metabolisme tubuh cepet banget. Makan dua gerobak tapi kagak gemuk-gemuk. Ngerinya lagi, bahkan teman saya penderita syndrome pengen kurus ini malah mau menggugat Tuhan di akhir dunia. Ck..ck.. gila ya, tapi saya akui keberaniannya.

Saya cuma geleng-geleng kepala mengakui keberaniannya, dan sedikit mengangguk paham apa yang dideritanya :D (corry Gung). Entah ini wujud penolakan akan syukur nikmat ato apa, saya nggak tahu. Tapi syukur lambat laun dia bisa menerima sebuah kenyataan. Ya.. saya pikir seperti itu.

Bukankah kita memang diciptakan berbeda satu sama lain. Berbeda kelamin, berbeda bangsa, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, berbeda agama dan berbeda segala-galanya. Ke-berbeda-an ini kadang menunjukkan kedangkalan kita sebagai manusia. Kita cenderung kurang bersyukur atas apa yang diciptakan pada kita. Standart yang kita inginkan kelewat tinggi dan tidak jarang juga kurang rasionalis.

Berbagai usaha untuk tampil seperti yang di inginkan sesuai standart kecantikan atau ketampanan membuat seseorang tampil berani, bahkan kelewat berani. Mulai dari berani ngejalani pengobatan yang menyakitkan, operasi plastik bahkan rela “menghamba” pada sesuatu yang abstrak. Anda tahu kan maksud saya.

Semua orang ingin tampil menarik, tapi kita lupa bahwa Tuhan juga menginginkan kita tampil apa adanya, rasionalis, realistis dan apa adanya. Tahukah Anda bahwa saya baru sadar kalau pengertian ADIL itu ternyata cukup dengan bercermin pada diri kita sendiri. Kita diciptakan dengan komposisi yang sama dan setara. Tinggal bagaimana kemampuan kita memanfaatkannya. Bentuk keadilan lain adalah, Tuhan memberikan kita waktu. Ya .. Waktu.

Waktu yang diberikan pada kita sama banyaknya. Nggak peduli kaya miskin, tua muda, besar kecil kita diberikan kesempatan yang sama dan adil dengan waktu. Tinggal bagaimana kita sekali lagi memanfaatkannya. Waktu tidak bisa dibeli, tidak bisa diundur dan tidak bisa perpanjang. Sekali lagi tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.

Syukur tidak berhenti dari ucapan semata. Tapi bagaimana kita menyikapinya.

Kita memang tidak ditakdirkan kaya, tapi kaya bukan semata perkara harta. Kaya adalah bagaimana cara kita menjaga hati untuk selalu bersyukur. Lebih baik kita memiliki hati yang kaya dari pada bertumpuk-tumpuk koin emas.

Kita memang tidak dilahirkan setampan dan secantik yang kita inginkan. Jangan lupa, standar tampan dan cantik juga buatan manusia. Jadi kenapa kita harus memaksakan diri menyesuaikan standar. Semua orang ingin terlihat cantik. Semua orang ingin terlihat tampan. Tapi coba kita pikir, kalau semua orang diciptakan tampan dan cantik, lalu bagaimana kita akan bersyukur. Sifat manusia itu selalu ingin lebih. Sudah di ciptakan tampan dan cantik, masih ingin lebih. Itulah manusia, mahkluk serakah yang selalu tidak ingin puas.

Terlalu melelahkan bukan kalau kita memaksakan diri. Jadi mengapa tidak di mulai dari sekarang saja kita bersyukur atas apa yang kita terima. Mengambil hikmah dari semua kejadian dan peristiwa yang menimpa kita. Kita sendiri yang harus mencari hikmah atas suatu kejadian, bukan menunggu sampai kita berkata “oh… ternyata ini hikmahnya”.

Sibuklah mencari kekurangan dalam diri kita dan sadarilah dengan realitas yang mengedepankan rasa syukur. Dan lebihkanlah apa yang bisa kita banggakan dalam diri kita dengan menjunjung martabat diri kita sebagai manusia.

Ehm…. leganya. Ya sudah…. jangan lupa nyalakan lampunya kembali. Ini popcorn juga sudah habis. Waktunya saya untuk kembali merengkuh nikmatnya dunia khayalan dalam mimpi dan memeluk erat banana sleep saya alias bantal he..he..

Oh ya. Jangan lupa berdo’a dan cuci kaki dulu. Bersyukur kita masih merasakan sejuknya air dingin dan oksigen yang kita hirup. Jangan ketinggalan juga, berharaplah kita masih dapat melihat hangatnya mentari esok hari. Dan kalau sudah merasakannya .. sekali lagi jangan lupa untuk bersyukur.

(-_- ) zzzz….zzzz..

Halaman Berikutnya »