Jadilah Seperti Pohon …

Kuat dan MeneduhkanSeperti halnya filosofi kehidupan, pohon juga merangkum dengan cantik seluruh  filosofi kehidupan. Bukan berlembar-lembar, ber buku-buku dan berjilid-jilid. Tetapi dengan menjadi dirinya sendiri.

Dalam klasifikasi mahkluk hidup di dunia ini hanya ada dua jenis, binatang dan tumbuhan. Ironisnya, manusia masuk dalam jenis binatang (animalia). Binatang yang berakal tentunya. Tapi dalam segala aspek kehidupan, setiap mahkluk bernama binatang (binatang sungguhan dan manusia) tidak dapat lepas dari ketergantungannya terhadap tumbuhan.

Tumbuhan dan pepohonan di ciptakan bukan hanya sebagai pelengkap keragaman hayati di bumi, namun jauh dari itu, mereka adalah guru yang menjadi pelajaran kehidupan bagi siapa saja. Termasuk mungkin Anda.

Dalam perjalanan hidupnya, pohon tidak jauh berbeda dari semua mahkluk. Tumbuh, berkembang lalu mati. Tapi tahukah Anda, sebuah pohon dapat menjadi lambang kehidupan yang hakiki.

Pohon tumbuh dari biji yang sangat kecil, mungkin mustahil bagi kita memikirkan apa yang dikandung oleh biji yang kecil sampai menjadikan sebuah pohon yang besar. Mungkin kita memang malas memikirkannya, asal di tanam itu sudah cukup. Tak perlu susah untuk berpikir terlalu keras apa yang terjadi di dalam tanah.

Manusia seharusnya bisa mengambil pelajaran hidup yang hakiki hanya dari sebatang pohon. Dalam hidupnya, pohon hanya memberikan manfaat. Tidak pernah merusak tetapi hanya memberi manfaat. Namun kitalah yang justru mengabaikannya.

Jadilah seperti Pohon…

Yang kuat dan meneduhkan. Yang selalu memberi manfaat untuk semua mahkluk dan tidak pernah merusak. Sabar dan penyayang. Setia dan tidak pernah ingkar. Tidak pernah mengeluh dan selalu tersenyum dengan keindahan yang dimilikinya.

Pohon adalah tempat dimana beberapa mahkluk menggantungkan hidupnya, maka dari itu dia harus menjadi kuat. Seperti primata, burung dan mamalia lain yang menjadikannya tempat bersarang. Kekuatan yang dipadukan dengan keteduhan yang ditawarkan menjadi primadona bagi mahkluk yang lain. Seperti halnya diri kita, jadilah pribadi yang kuat dan meneduhkan bagi orang lain agar dapat bersandar saat mereka rapuh yang menarik lengan mereka saat jatuh lalu meneduhkannya dengan senyum yang terukir dengan tulus. Seolah mengisyaratkan “Hei, kamu tidak sendiri. Ada kami yang masih bisa kau andalkan, sobat…”

Selalu memberi manfaat dan tidak pernah merusak. Namun ironisnya, justru keserakahan kita lah sebagai manusia yang merusak buku-buku kehidupan itu. Dengan buahnya yang ranum untuk dipetik, daunnya yang segar untuk dipandang, rantingnya yang lentik dan cantik bercabang untuk tempat berteduh, tubuhnya yang kokoh untuk bersandar, akarnya yang kuat untuk meresap seolah menunjukkan bahwa dia masih ada untuk selalu hidup demi kita. Pohon tidak pernah marah dan tersinggung bila buahnya dipetik, daunnya dimakan, cabangnya di pijak, atau tubuhnya yang menjadi sandaran. Tidak pernah, dia tidak pernah merasa terancam dan tersinggung. Bahkan dalam waktu yang lama sekalipun dia tidak pernah meminta upah untuk itu semua. Apakah kita sebagai manusia yang menyandang gelar makhluk sosial, makhluk berakal budi atau gelar beradab lainnya sudah memberikan yang terbaik untuk sesama? Bukankah sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi manusia lainnya. Malulah kita pada pohon, sobat …

Sebatang pohon adalah cermin kesabaran dan kasih sayang. Dia tetap tumbuh dengan anggunnya tak bergeming dan merasa gusar walau manusia menyadap getahnya, mencuil-cuil kulit kayunya, memotong dahan dan rantingnya, bahkan memetik dengan serakah buahnya. Walaupun mendapati perlakuan itu semua, dia tetap sabar. Pohon memang diciptakan untuk selalu kita sakiti, benar kan? Mungkin juga saat hati kita sedang kacau tidak jarang kita malah merusaknya dengan memetik bunga dan merobek daunnya dengan kesal. Kesabaran dan kasih sayang pohon memang seharusnya menjadi teladan. Saat kita merasa di ujung kehinaan hidup, tak lain jalan bagi kita untuk bertahan dari semua cobaan adalah bersabar. Bukankah kesabaran dan sholat adalah sebaik-baik senjata bagi kita. Allah SWT sangat menyayangi orang yang penyabar.

Pohon adalah “pribadi” yang setia dan tidak pernah ingkar. Sekali di tanam, dia akan tumbuh di tempat itu. Tidak pernah dia selingkuh dengan berpindah ke tempat yang lain. Baik lah memang naif, pohon kan tidak punya kaki. Memang benar, tetapi bukankah seharusnya kita malu, bila kita yang memiliki kaki ini seringkali tidak merasa puas dengan dirinya sendiri. Kita tidak pernah merasa bersyukur dengan apa yang kita miliki. Kita hanya menyenangkan diri kita, bila tidak sesuai bisa ditinggal. Kesetiaan adalah simbol cinta kasih. Bagaimana kita setia pada negara dan bangsa, setia pada masyarakat sosial, dan mungkin setia pada diri kita sendiri. Mencintai diri sendiri adalah wujud rasa syukur. Kita memang tidak selalu mendapatkan apa yang kita sukai, tetapi seharusnya kita menyukai apapun yang kita dapatkan.

Pohon memang mahkluk yang unik. Didalam dirinya terdapat keinginan tentang berbagi terhadap sesama mahkluk. Bukan untuk memamerkan dan menyombongkan dirinya. Keindahan bentuk, warna dan aromanya yang khas menawarkan siapa saja untuk datang menikmatinya. Dan ini gratis. Ini bicara tentang sejauh mana kita memberi impact pada orang lain. Bila memang kita tidak dapat memberi dengan bergunung-gunung harta, setidaknya apa yang kita miliki dapat membantu orang lain untuk tersenyum. Ayolah, kawan….  Seharusnya ini mudah untuk kita lakukan, bukan?

Keunikan lainnya adalah, rentang hidupnya yang panjang. Bila tanpa diganggu dan dirusak, pohon adalah mahkluk dengan kemampuan bertahan hidup paling lama di dunia. Bahkan pernah ditemukan pohon paling tua di dunia melampaui peradaban manusia pertama, bahkan jauh sebelum itu. Seperti yang ini. Bukan sepanjang dan sependek apa umur kita nantinya. Tetapi kita berbicara tentang memanfaatkan usia kita demi kebaikan bersama.

Jadilah seperti pohon, sobat …

Hari Raya Ibu Indonesia

Oh.. iya, saya hampir lupa. Ini adalah hari dimana seluruh Ibu di Indonesia di istimewakan. Bisa dibilang hari ini adalah hari rayanya Ibu se-Indonesia. Hari yang memiliki sejarah panjang perjuangan wanita dimana pengertiannya sendiri juga merupakan perjuangan memuliakan manusia yang dia lahirkan, dari rahim sucinya.

Saya sengaja menuliskannya malam ini, karena tidak ingin kehilangan moment yang hanya ada setahun sekali. Meski agak sedikit larut, baru pulang dari kantor yang jaraknya nun jauh dari rumah. Tapi biarlah untuk hari ini saja. Sekali lagi saya tidak ingin tertinggal.

Menyambut hari ibu biasanya dirayakan dengan segala jenis selebrasi mulai dari yang mengharu biru, rada’ sentimentil bahkan ada pula yang disusupi kampanye politis dengan tema yang hampir sama. Pokoknya untuk ibu.

Pecandu facebook alias facebookers jelas tidak ingin tertinggal. Bahasa-bahasa puitis dan mendayu-dayu tidak pernah lepas di wall mereka (meski patut dipertanyakan apakah murni dari hati mereka atau sama seperti saya ikut-ikutan aja he..he.. ). Aneka rupa, beragam dan selaras alias semuanya sama.

Hampir di setiap belahan dunia memiliki hari istimewa yang satu ini meskipun tidak pada satu waktu, tapi pasti ada. Yang lebih menarik lagi, perayaannya pun bermacam-macam. Di Indonesia sendiri Hari Ibu di peringati setiap tanggal 22 Desember setiap tahun yang memiliki ulasan sejarah panjang yang menyertainya. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Moment perjuangannya juga selaras dengan kehidupan sang ibu itu sendiri. Jika penetapan tanggal 22 Desember di kaitkan dengan perjuangan pemikiran dan penyetaraan pada saat bangsa ini juga berjuang dengan kemerdekaannya, maka setiap hari hampir seluruh Ibu berjuang sendiri dalam lingkup yang lebih kecil yang kita kenal dengan keluarga.

Keluarga adalah ranah perjuangan dan medan pertempuran melawan segala bentuk perangai dan hiruk pikuk kesumpekan rumah tangga. Kegaduhan dan keluhan hampir mewarnai setiap hari. Perjuangannya belum berakhir sampai di situ saja. Oh..iya, bukannya menjaga nama baik keluarga juga perjuangannya, jihad lah bisa dikatakan seperti itu.

Belum lagi sejak pertama menyandan status sebagai seorang Ibu, wanita juga berjuang menahan perih, sakit dan keluhan selama mengandung. Bahkan si Ibu ini tidak pernah membayangkan yang tidak-tidak, misalnya kelak seperti apa perangai si Anak, baik atau buruk tetap dengan sabar dan penuh kasih di belai di perutnya. Kebayang nggak kalau Ibu kita sudah tahu sifat anaknya bejat dan durjana, pasti aborsi akan di legalkan. Siapa juga yang mau mengandung anak kayak begono, nyusahin ntar. Tapi inilah yang membuat kita bersyukur (bersyukur karena itu adalah rahasia Sang Khalik) tugas Ibu hanya mengandung tanpa harus menolaknya. Tapi Ibu kita tidak seperti itu, kan.

Ibu juga tidak pernah, dan mungkin tidak akan pernah meminta pamrih atas rasa sakit selama sembilan bulan, biaya penderitaan karena perutnya mual atau tagihan karena kita sering membuat kepalanya pusing dan menendang-nendang perutnya dengan kaki mungil kita dahulu. Namun beliau terus saja tersenyum dan mengangap semuanya baik-baik saja. Demi si jabang bayi tidak tahu terima kasih ini ….

Ibu juga tetap manusia. Sifat dan perangainya tetap tidak akan pernah hilang. Namun di situlah keistimewaannya. Bukankah itu adalah pesona yang sangat majemuk dan menjadi ciri khas ibu kita masing-masing. Namun kepribadian sebagai seorang ibu tidak akan pernah bergeser dari fitrahnya sedikit pun. Tidak sedikitpun merasa dendam dengan anaknya, tidak secuil pun merasa malu melakukan apapun yang terbaik bagi anak-anaknya, pun tak merasa harus kehilangan pegangan dalam hidupnya karena bagi beliau anak-anaknyalah motivasi dan semangat hidup yang nyata.

Kalau begitu, mengapa kita harus malu dengan kelemahan-kelemahan Ibu kita. Mengapa kita harus minder dengan tingkah laku Ibu kita. Bahkan, kenapa juga kita harus mengungkit masa lalunya yang dengan polos dan bodohnya kita anggap masa lalunya tersebut adalah aib. Hanya dengan membandingkan dengan standar diri kita yang belum tentu standar kita adalah yang terbaik. Bodohnya kan kita.

Bagaimanapun, berlembar-lembar halaman ini juga tidak akan mampu menuliskan kedigdayaan Ibu sebagai superwoman. Tidak disini, bahkan di manapun. Dalam benak putra-putrinya, Ibu selalu mendapat tempat paling istimewa. Entah dimana, yang jelas itu indah, mengharukan dan membuat kita selalu rindu padanya.

Nggak apa-apalah kali ini saya ingin menjadi anak kecil lagi. Maksudnya, saya ingin ikut-ikutan arus latah sama moment-moment seperti ini. Toh, saya juga tetap anak dari Ibu saya :P he.he..he..

Selamat Hari Ibu buat Ibuku. Semoga Ibu yang di Surga sana mendengar do’a yang selalu lupa aku kirimkan, maafkan anakmu yang durhaka ini. Dan semoga Ibu di rumah belum mengantuk menunggu anak bengalnya ini menulis tentang diri mu yang entah itu bisa dinilai sebagai kurang kerjaan atau cuma isapan jempol belaka. Tapi saya tidak peduli, toh saya juga yakin (karena saya tahu sifat Ibu saya) Ibu pasti … yah begitulah, saya harap sih dia bangga dengan kebodohan saya ini.

Maafkan saya yang selalu meronta dalam hati atas ketidakadilan kecil yang terjadi dalam keluarga, padahal kelak Ibu meyakinkan bahwa itu adalah demi kebaikan ku juga. Maafkan juga kalau sering menggerutu dalam hati tentang keputusan yang mungkin tidak sejalan dengan kemauan liar kami. Maaf ya, bu, kita kan juga masih anak-anakmu :D

Untuk Ibuku, semoga segala yang terbaik dari Tuhan selalu engkau terima (sisain dikit ya, aku tahu Ibuku nggak pelit sama anaknya he..he..).

Hari Raya Ibu se-Indonesia

Selamat Hari Ibu …Hug n’ Kiss     muaachh… Love u Mom :D

Nb:  Saya akhiri tulisan ini dengan do’a. Yuk sama-sama berdo’a buat saya. Ya Allah, semoga engkau tidak membuat Ibuku marah karena terlambat pulang kantor gara-gara menulis tulisan ini, dan semoga Ibu tidak terlalu mengantuk untuk membukakan kunci rumah karena menunggu diriku. Semoga kau tetap membuat dirinya terjaga di tengah malam pekat ini, tapi saya nggak tega, deh. Biarinlah saya gedor-gedor pintu. Satu lagi, semoga waktu gedor pintu rumah, Ibu nggak nganggap anaknya ini maling …..

Membangun Sebuah Mimpi

Mimpi … Sebuah kata yang merefleksikan banyak hal.   Mimpi kadang dianggap sebagai buah tidur, mungkin  juga  sebuah pergulatan batin antara mampu mencapainya atau hanya berhenti sebagai sebuah angan-angan belaka.

Malam itu memang tidak ada niat untuk antri nonton keluaran Miles yang baru ini, tapi hanya ingin menepati janji dengan seorang kawan. Obrolan basa basi yang sangat singkat (tumben, biasanya kalau ngerumpi luaamaa .. :P ).

Saat dalam perjalanan mau pulang, pikiran liar saya ter-distraksi membelokkan sepeda motor ini menuju salah satu Mall di kota Surabaya. “Kenapa nggak nonton Sang Pemimpi aja?” pikir saya. Jadilah niatan nonton tak terencana itu kesampaian.

Sebelumnya saya sudah khatam membaca novel ke dua dari tetralogi novel Laskar Pelangai karangan Andrea Hirata ini. Lewat besutan sutradara populer Riri Riza dan partner kritingnya Mira Lesmana memang dikenal sebagai duet sineas yang mumpuni di Indonesia.

Buah dari persahabatan seringkali menumbuhkan semangat kebersamaan. Termasuk merajut mimpi akan masa depan. Menonton film ini membuat saya juga berani bermimpi, tepatnya bermimpi kembali. Keterbatasan materi hanyalah sebuah keadaan, dan seperti yang lainnya, keadaan dapat diubah sesuai keinginan kita.

Usaha, do’a dan kerja keras belum lah cukup. Sebagai manusia, kadang kita diliputi kebimbangan dan keresahan mengenai keraguan apakah dapat mewujudkan mimpi yang seakan mustahil untuk di wujudkan. Menyadari kehadiran orang yang selalu dekat dan menyayangi kita, juga merupakan sebuah cara untuk menyadari betapa kita tidaklah sendirian. Selalu dan selalu ada orang yang akan menarik lengan kita bila kita jatuh, menyediakan pundaknya bila kita ingin bergelayut manja dan membangunkan semangat kita yang tanpa sadar tertidur kembali.

Namun sayangnya, banyak orang yang takut bermimpi. Menganggap mimpi hanya sekedar rekreasi diri tidak lebih dari kesenangan belaka. Hanya angan-angan dan hanya impian. Itu saja.

Padahal mimpi yang baik tidak sebatas angan belaka. Mimpi disini  adalah sebuah grand design mengenai siapa diri kita 5, 10 atau 20 tahun yang akan datang.

Walaupun sebagian besar orang ingin menjalani hidup yang let it flow, mengalir apa adanya, tidak usah menghawatirkan hari esok. Memang benar, sangat setuju malah. Tapi, ibarat air, mengalirnya hidup kita juga akan menemukan akhir perjalanan. Terjebak di bawah tanah, tertahan di rawa-rawa, menggenang di celah daratan, menyatu dengan makhluk hidup, terbang seperti uap dan akhirnya akan kembali ke lautan. Dan memulai siklus yang baru, berulang-ulang, tanpa henti.

Seperti itulah mimpi. Mimpi yang layak diwujudkan tentunya. Mimpi yang mampu diwujudkan demi kebaikan bersama, untuk orang-orang yang selalu menjadi penyangga di saat kita rapuh, memberi belaian disaat kita merasa butuh kasih sayang dan tidak lari menjauh saat kita membuat kesalahan. Selalu ada.

Seperti mimpi pula yang selalu menjaga siklusnya. Berulang-ulang, menginspirasi, bahkan meski sekedar mengaguminya. Mimpi pulalah yang membawa tokoh-tokoh terkemuka menemukan dunia yang lebih indah dari sebelumnya. Nabi Muhammad SAW, Michael Faraday, Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Abraham Lincoln dan tokoh-tokoh pembaharu lainnya. Kita harus berterima kasih pada mimpi-mimpi mereka yang membuat dunia ini lebih berwarna dan indah. Dan kita pun saat ini berdiri diatas mimpi-mimpi yang mereka bangun dan mereka khayalkan.

Namun, keberadaan mimpi jangan malah melenakan kita. Sekali lagi hanya berhenti sebatas angan-angan belaka.

” Bermimpilah, Maka Tuhan Akan Memeluk Mimpi-Mimpi Kita ” Arai Sang Pemimpi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.